Mulyadi J. Amalik
Lahir di Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, 10 Oktober 1969. Pernah kuliah di Fakultas Filsafat UGM. Aktif di komunitas Budaya Nusantara Seni Tradisi Lokal HIPREJS, Jawa Timur, perkumpulan penulis Satupena Sumatera Selatan. Bergiat di komunitas seniman Gugum Tapa, Yogyakarta. Kontributor Forum Indonesia Menggambar dan partisan Teater Potlot Palembang. Menginisiasi antologi Syair-syair Pembelaan Pemuda-Petani Karawang (2008). Pameran puisi-drawing Rumah Seni Muara, Yogyakarta (2004). Pameran puisi Perjuangan Tanah Surat Ijo di Rumah Peneleh, Surabaya (2024). Menulis/membacakan puisi tafsiran dari pameran lukisan Arik S. Wartono di Balai Pemuda Surabaya (Agustus 2024). Menulis/memamerkan puisi tafsiran pameran lukisan Pelabuhan karya Oeta (Sri Wiryanti Budi Utami) di Balai Pemuda Surabaya (2024).
Antologi puisi: Kuburan Bagi Penyair (2004/tunggal); Komposisi Masyarakat Pasar dan Surat Perintah 21 Mei (2000/berdua); dan antologi bersama: Teh, Imajinasi, Puisi (2025), Ramadan di Betawi (2025), Swara-swara Anak Pulau (2025), Jurnal Puisi Cinta (2025), Si Binatang Jalang (2025), Membaca Ibu: Ibu, Aku Anakmu (2024), Serampai Kata Blambangan (2024), Merdeka Puisi (2024), Jauhari (2024), Ijen Purba: Tanah, Air, dan Batu (2024), Like (2024), Jakarta, Kota Literasi Kita (2024), Democrazy (2024), Aku Presiden (2024), Duka Tanah Pusaka (2024), Rempang Tanah Luka (2024), Jelajah Sungai Menyapa Alam Barito (2024), Tanah Tenggara (2023), Kulminasi (2023), Riau Istimewa (2023), Sekuntum Puisi untuk Petani (2023), Sekop(y)or Puisi Humor (2023), Identitas, Kemanusiaan, Kampung Halaman (2023),